Trenggalek – 200 lebih nelayan asal Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur berunjukrasa di kantor Syahbandar Prigi, mereka menuntut para nelayan pendatang yang tak berijin untuk keluar dari Trenggalek.

Koordinator aksi, Edy Santosa mengatakan, keberadaan nelayan pancing dari luar daerah dinilai sangat menganggu nelayan lokal asli Trenggalek, terlebih para pencari ikan dari luar pulau tersebut rata-rata tidak memiliki ijin tinggal maupun suat-surat kelengkapan lainnya.

Selain itu, munculnya nelayan pendatang mulai mempengaruhi harga ikan yang dihasilkan oleh para nelayan lokal. kondisi ini dinilai sangat perpotensi menimbulkan gejolak soial di masyarakat.

“Kami minta dengan segera mereka (nelayan pendatang) segera pergi, daripada nanti kita berbuat anarkis,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Tasikmadu, Riyono, pihaknya mengaku , hingga saat ini tidak pernah menerima tembusan maupun ijin dari nelayan pendatang yang tinggal di pesisir selatan Prigi.

Bahkan, pemerintah desa juga tidak mengetahui jumlah kapal nelayan pendatang yang bersandar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi. “Kami selaku pemangku wilayah tidak pernah tahu,” ujarnya.

Sementara itu, Sukri, perwakilan nelayan pendatang mengakui, saat ini banyak nelayan dari luar Trenggalek yang tinggal dan bersandar di wilayah perairan selatan Prigi. Pihaknya juga mengakui sebagian besar dari mereka tidak memiliki ijin tinggal sementara dari pemerintah setempat.

Atas desakan dari nelayan lokal tersebut, Sukri mengaku siap untuk memulangkan seluruh nelayan pendatang yang saat ini mencari ikan di di wilayah Trenggalek. Namun pihaknya meminta waktu beberapa hari. “Karena proses mengunpulkan Nelayan Pendatang juga butuh waktu, kami harap diberi waktu,” katanya.

Setelah melalui proses mediasi yang panjang, akhirnya dicapai kesepakatan, para nelayan pendatang harus meninggalkan kawasan Prigi maksimal tanggal 20 April mendatang.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Dwi Yuliono meminta masyarakat nelayan untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban bersama dan tidak melakukan aksi anarkis. “Semua pihak harus menahan diri, persoalan sudah menemukan titik temu dan ada solusinya,” katanya.