Ponorogo– Puluhan penderita gangguan jiwa di Kabupaten Ponorogo dipasung oleh pihak keluarga. Dari catatan Dinas Kesehatan setempat, di seluruh wilayah bumi reyog itu terdapat 74 penderita gangguan jiwa yang dipasung. Hal ini mengalami kenaikan bila dibanding tahun sebelumnya. “Per Januari 2013 ada 74 orang yang dipasung, itu naik karena sebelumnya 68 orang,” sebut Hariono petugas dari Dinas Kesehatan setempat kepada www.edhiebaskoro.com, Senin (13/5).

Jumlah ini, menurutnya tersebar diseluruh kecamatan di Kabupaten  Ponorogo. Sedangkan terbanyak berada di kecamatan Sawoo yang mencapai 14 orang dalam pasungan. “Paling banyak Sawoo ada 14, lainnya menyebar dan sudah tertangani,” katanya. Meski begitu, kata ketua PPNI Ponorogo ini, ada juga pihak keluarga yang melarang petugas melakukan penanganan. Ada yang terputus, kami tidak bisa masuk, mereka melarang. Gak usah diapa-apakan,” ceritanya.

Selain karena masalah ekonomi, kata Hariyono, keputusan memasung karena pertimbangan keselamatan jiwa, baik masyarakat maupun penderita. “Biasanya, mereka yang dipasung karena pertimbangan sering menyerang anggota keluarganya,” ujarnya.

Ia mencontohkan, penderita gangguan jiwa karena faktor ekternal didominasi karena beratnya tekanan hidup, yakni masalah ekonomi keluarga. Selain itu, masalah asmara dan rasa takut yang berlebihan (scizofrenia) juga ikut berperan memicu perubahan perilaku psikologis secara drastis ini. “Sedangkan faktor penyebab internal, lebih kepada faktor penyakit turunan,” sebutnya.

Hariyono menjelaskan, penderita scizofrenia, proses penyembuhan tidak hanya mutlak melalui pemberian obat-obatan (medicotherapi), namun juga harus didukung dengan psikoterapi. Caranya, dengan sering diajak berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan. Karena itu, upaya psikoterapi butuh dukungan banyak pihak, termasuk birokrasi di tingkat kecamatan sampai desa.

Mengenai ketersediaan obat, ia mengatakan, hingga kini masih mencukupi. Dan metode pengobatan bagi penderita gangguan jiwa dilakukan secara bertahap. “Misalnya, hari ini kita suntik, besok kita datangi lagi. Jika masih mengamuk, maka akan dipasung. Namun sebaliknya, kalau sudah tenang dan mampu bersosialisasi, akan kita lepas,” kata dia.

Lebih lanjut Hariyono menjelaskan, bagi keluarga yang memilih memasung penderita gangguan jiwa hendaknya juga memperhatikan kesehatannya, seperti tidak memasung kaki atau tangan menggunakan balok kayu. Sebab, teknik semacam itu dapat membuat penderita cacat fisik. “Kita minta keluarga juga memperhitungkan sisi kesehatan penderita, yakni dengan memperhatikan sarana buang air dan lainnya. Penderita rentan terkena penyakit medik serta dapat terkena penyakit paru-paru karena pnemonia ortostatik,” jelasnya.

Upaya ini sejalan dengan target  Provinsi Jatim yang mencanangkan bebas pasung tahun 2014 nanti. Karena itu, pihak terkait berupaya keras mengurangi terjadinya pemasungan pada warga yang mengalami gangguan jiwa. Meski tahun depan belum seluruhnya dientaskan.

Hingga saat ini Dinkes Ponorogo sendiri tidak tinggal diam terhadap banyaknya orang gila ang hidup dalam pasungan. Ada semacam pelayanan khusus pada pasien itu. Selain menggratiskan pengobatan, rajin melakukan penuluhan, juga membentuk kader masyarakat.

Dia menambahkan pengobatan pasien jiwa yang pasung semua gratis asalkan dilakukan di Puskesmas. “Semua pasien jiwa gratis kalau di Puskesmas. Kalau dipasung kemudian suntik atas nama Puskesmas itu gratis. Kita tidak berlaku bila berobat ke rumah sakit swasta,” sebutnya.

Pihaknya juga melakukan penyuluhan kepada pasien dalam pasungan. Disamping itu juga membentuk kader jiwa ang anggotanya berasal dari elemen masarakat. Kader, kata dia, bisa dari keluarga pasien, mantan pasien maupun perangkat desa setempat. Para kader dibekali kemampuan dan ketrampilan maupun pendekatan ke keluarga pasien.

Dibeberkannya, kader juga mempunyai tugas mengkondisikan lingkungan bagi pasien yang baru sembuh agar diterima lingkungannya. “Sebab, kalau lingkungan menolak, si pasien bisa kambuh lagi. Penderita harus dibantu agar diterima di lingkungannya,” sebutnya.

Sampai saat ini, kata Hariono, ada sekitar 100 kader jiwa yang sudah terbentuk. Pihaknya juga berkoordinasi dengan dinas kesehatan propinsi Jawa Timur. Beberapa hari lalu lalu misalnya dinkes propinsi mengadakan pembinaan kader tersebut. Materi langsung disampaikan oleh petugas dari Rumah Sakit Jiwa Menur. Kader juga diajak langsung cara menangani pasien yang dipasung. “Kemarin kita bersama dinkes Jatim mengunjungi pasien dipasung di kecamatan Balong, Sawoo untuk melatih kader menanganinya,” sebutnya. (Muh Nurcholis)