PONOROGO – Upaya Pemkab Ponorogo untuk melestarikan kesenian reyog terus dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dilakukan dengan mengadakan Festival Reog Mini (FRM). Bertepatan dengan HUT Ke 520 Kabupaten Ponorogo juga diadakan agenda tahunan untuk tahun 2016 dilaksanakan di Panggung Utama Aloon-Aloon Ponorogo. FRM XIV tahun ini diikuti oleh 30 group reyog mini dari 21 kecamatan dan perwakilan dari beberapa SMP yang juga mengirimkan group reyognya. Pada acara pembukaan, kemarin malam selain disaksikan masyarakat Ponorogo juga tampak dihadiri oleh Forpimda Ponorogo, Bupati Pacitan, Wali kota Madiun, Bupati Madiun yang diwakili oleh asisten terkait.
Pada kesempatan itu, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni berharap dengan usia ke 520 tahun bisa dijadikan bahan renungan seluruh masyarakat Ponorogo. “Usia 520 tahun adalah usia yang cukup tua bahkan mungkin tertua diwialayah karesidenan Madiun. Usia yang tua ini sudah selayaknya kita syukuri sekaligus merefleksikan diri apa yang sudah terjadi selama 520 tahun,” ujar Ipong.
Dia juga menambahkan sebagai sebuah kabupaten Ponorogo mampu menjaga budayanya, mampu menjaga apa yang menjadi warisan luhur bangsa. “Dan hal ini dapat kita tunjukkan dengan Reyog Ponorogo menjadi ikon Ponorogo bahkan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia yang dikenal diseluruh dunia,” tambahnya.
Lebih lanjut dia juga menyampaikan bahwa FRM XIV ini merupakan sebuah media untuk memberikan kesempatan kepada anak muda untuk terus mengembangkan reyog Ponorogo. Acara juga diisi dengan menabuh gendang sebagai pertanda dibukanya FRM XIV dalam rangka HUT Ke 520 Kabupaten Ponorogo.
Pada kesempatan itu Ipong juga menyampaikan permintaan maaf atas kondisi jalan rusak dan berlubang di Ponorogo yang sampai sat ini belum sempat diperbaiki.
“Lima bulan jadi Bupati melalui mimbar ini saya mohon maaf karena belum bisa memenuhi sebagian besar tuntutan masyarakat terkait infrastruktur yang baik. Tapi saya berjanji saya akan bekerja siang malam untuk mewujudkan tatanan infrastruktur yang baik di Ponorogo. Namun itu tak bisa dilakukan dalam sekejab, membutuhkan waktu satu, dua, tiga, empat hingga lima tahun,” akunya.
Lebih lanjut Ipong menjelaskan bahwa jika hari ini baginya masih dalam kesulitan, pasalnya saat jadi bupati tinggal menjalankan program yang sudah ditentukan pada tahun 2015. “Saya hanya bisa menjalankan program yang sudah ditentukan sebelum saya jadi Bupati. Saya mohon maaf dan pemakluman jika sampai dengan hari ini saya belum bisa maksimal dalam memperbaiki nfrastruktur di Kabupaten Ponorogo,” papar Ipong. (mnc)