Trenggalek- Kepolisian Resor (Polres) Trenggalek, Jawa Timur menyiapkan 284 anggota polisi untuk mengamankan pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun ajaran 2012/2013, 15 April mendatang.

Kapolres Trenggalek, AKBP Totok Suharyanto, Selasa mengatakan, ratusan aparat kepolisian itu akan disebar di 59 lokasi ujian nasioal yang tersebar di Kabupaten Trenggalek.

“280 itu untuk SMA dan SMP, teknisnya nanti, setiap sekolah akan kami siagakan dua personil polisi. Pada intinya pengamanan yang dilakukan polisi adalah untuk mencegah agar jangan sampai soal itu bocor, serta menjaga agar proses itu berjalan lancar,” katanya.

Menurutnya, selain menjaga di setiap sekolah penyelenggara, pihaknya juga berkewajiban untuk mengamankan pengambilan serta distribusi soal ujian mulai dari dinas pendidikan provinsi hingga penyerahan ke masing-masing sekolah.

Totok menambahkan, sesuai dengan jadwal yang telah tentukan, Rabu (10/4) besok pihaknya akan mengambil naskah ujian tingkat SLTA dan Paket C di Surabaya. Selanjutnya Puluhan ribu materi UN tersebut akan langsung disimpan di markas Polres Trenggalek.

“Jumat dilakukan cek fisik dan dibagi per kecamatan, kemudian hari Sabtu didistribusikan ke masing-masing polsek jajaran untuk disimpan hingga hari Senin pagi,” imbuhnya, usai rapat koordinasi pengamanan ujian nasional.

Distribusi ke masing-masing sekolah akan dilakukan Senin (15/4) pagi dengan pengawalan ketat kepolisian serta didampingi oleh pengawas satuan pendidikan (PSP).

Sementara itu, Koordinator Pengawas Satuan Pendidikan (PSP) Trenggalek, Yudi Setiyono mengatakan, untuk menjamin kelancaran ujian nasional pihaknya akan mengerahkan 68 dosen dari Universitas Negeri malang (UM) serta beberapa sekolah tinggi di Trenggalek.

“Untuk sekretariat unas kami siapkan lima pengawas, masing-masing satu orang dari UM  dan empat orang dari STKIP PGRI Trenggalek, sedangkan untuk tingkat rayon atau di dinas pendidikan sudah siap empat pengawas yang semuanya dari UM.” katanya.

Sementara itu, di 59 sekolah penyelenggara ujian, mamsing-masing akan diawasi oleh satu pengawas PSP, dengan rincian 44 dari STKIP PGRI Trenggalek, tujuh dosen dari STIT Sunan Giri Trenggalek serta delapan dosen dari Akademi Keperawatan (Akper) Trenggalek.

“Semua pengawas memiliki komitmen yang tinggi terhadap UN dan telah diminta untuk menandatangani pakta integritas untuk yang berisi kesanggupan menjaga kerahasia negara. Kami juga tegaskan, PSP dilarang menerima amplop dari sekolah karena mereka sudah mendapatkan honor” paparnya.

Lebih lanjut, Ketua STKIP PGRI ini menjelaskan, setiap PSP berkewajiban untuk mengawasi pelaksanaan ujian nasional di masing-masing sekolah agar sesuai dengan ketentuan yang ada dan tidak terjadi pelanggaran.

Pihaknya memaparkan, dari evauasi tahun lalu masih banyak terjadi sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan UN, diantaranya, banyak ditemukan pengawas ruangan yang tidak maksimal dalam menjalankan tugas dengan mengobrol merokok, tertidur serta membaca koran.

“Masih ditemukan siswa yang ditemukan membawa telepon genggam maupun kalkulator di dalam ruang ujian. Ada juga pengawas ruang yang membawa Hp dan diindikasikan mengirimkan jawaban ke sekolah asal serta masih banyak yang lainnya,” kata Yudi.

Pihaknya meminta seluruh elemen pendudukng ujian nasional untuk bekerja sesuai tugas yang telah ditentukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali pada pelakksanaan UN tahun ini. (Dimas)