Ngawi-Sudah menjadi kebiasaan dan penderitaan kaum petani, bila tidak masalah pupuk sulit,serangan hama yang menggila  dan perubahan cuaca seringkali membuat menangis karena hasil tidak sesuai yang di harapkan.  Akibat cuaca ekstrim, setidaknya membuat sejumlah petani hanya bisa pasrah saat batang padi roboh sebelum sempat dipanen. Hal inipun berdampak anjloknya harga gabah hingga tembus Rp 3.300/Kg. Hariyanto, seorang petani asal Desa Teguhan, Kecamatan Paron Ngawi, mengungkapkan bahwa pada awal panen sepekan lalu harganya masih bertengger pada kisaran Rp 3.750 sampai Rp 3.900 per kilogram.

“Dampak hujan terus-terusan selama empat hari terakhir harganya (gabah-red) terus turun. Padahal kalau dilihat kwalitas gabahnya panen musim ini sangat baik daripada panen lalu,” terang dia.
Masih menurutnya, dengan kondisi masa panen sekarang, rata-rata gabah basah membuat para tengkulak hanya mematok harga jauh dibawah harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kilogram. 
Faktor lain anjloknya harga tambahnya, pasca operasi Bulog melakukan penyerapan gabah langsung ke petani berakibat pada tengkulak dari luar daerah enggan masuk ke wilayah panen.
“Langsung atau tidaknya dampak operasi Bulog beberapa hari lalu jelas berdampak pada tengkulak. Biasanya persaingan harga dari tengkulak itu bisa terjadi tapi sekarang hanya mengandalkan tengkulak lokal itu pun pembelianya terbatas,” bebernya.
Sementara Dwi Rianto Jatmiko/Antok Ketua DPRD Ngawi beberapa hari sebelumnya sempat mengatakan, posisi petani sangat dilematis terhadap hasil panenya. Satu sisi jelas harga yang diharapkan setara dengan biaya produksi namun sisi lain kebijakan Bulog tidak serta merta membuat petani diuntungkan. 
“Kalau harga gabah diatas HPP, Bulog seharusnya menyerahkan harga gabah sesuai pasar. Artinya jika harga dibawah HPP baru Bulog bisa intervensi langsung ke petani untuk melakukan penyerapan gabah tentunya langkah ini bisa menstabilkan harga gabah,” tegas Antok. 
Kemudian terkait cuaca ekstrim sesuai siaran melalui situs Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) disebutkan pada 19 Juni 2016 ini adanya sirkulasi tekanan rendah di Samudera Hindia. Khususnya disebelah barat Sumatera yang menyebabkan pertumbuhan awan dan hujan di seluruh Indonesia kecuali Nusa Tenggara Timur (NTT)