PACITAN-Upaya percepatan pembangunan daerah perbatasan masih terkendala minimnya sarana prasarana. Akibatnya, wilayah yang berada di ujung luar Kabupaten Pacitan, kondisinya relatif tertinggal dibanding kawasan perkotaan. Pemandangan semacam itu tampak di Desa Gunugrejo, Kecamatan Sudimoro.

Bagi 467 kepala keluarga yang tinggal di perbatasan dengan Kabupaten Trenggalek itu, ketersediaan jalan yang memadai seakan menjadi impian. Hal itu tidak berlebihan. Sebab, meskipun secara administratif masih berada di bawah Kabupaten Pacitan, namun secara geografis posisinya berdampingan dengan daerah tetangga. Karena itu, geliat ekonomi warga banyak bergantung pada layanan barang dan jasa dari Kabupaten Trenggalek.

Sebenarnya, kata Suwarji, warga Dusun Rejoso, meskipun berada di puncak ketinggian, namun Desa Gunugrejo menyimpan potensi ekonomi cukup menjanjikan. Salah satunya adalah tanaman cengkeh yang tumbuh hampir di tiap pekarangan. Hanya saja, menurut Suraji, penjualannya selama ini terhambat medan berat. Sebab, pasar cengkeh terdapat di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek.

Persoalannya, untuk menuju ke pasar, warga harus melewati sungai tanpa adanya jembatan. Aksesnya pun hanya berupa jalan tanah yang tidak dapat dilewati pada saat musim hujan. Warga pun terpaksa memilih jalan memutar melalui Kecamatan Sudimoro dengan jarak terpaut lebih dari 20 kilometer. Tentu saja, biaya transpostasi yang harus dikeluarkan ikut membengkak.

Permasalahan lain yang dihadapi masyarakat Gunungrejo adalah ketersediaan air bersih. Untuk menopang kebutuhan sehari-hari warga dari 4 dusun, Tumpakrejo, Rejoso, Krajan dan Pagergunung mengandalkan aliran mata air dari Desa Trebis, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Hanya saja, pemanfaatan sumberdaya alam tersebut membutuhkan biaya tinggi.

Selain karena lokasi sumber jauh, untuk membawa air sampain ke pemukiman, warga harus menarik pipa hingga 4 kilometer lebih. Itu pun tidak menjamin air mengalir terus-menerus. Pasalnya, saat musim kemarau debit air mengecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan warga. Mereka berharap pemerintah daerah dapat membantu penerapan teknologi tepat guna dengan memanfaatkan aliran air sungai di dasar lembah.

Menanggapi keluhan warga, Bupati Indartato berjanji akan mengupayakan pembenahan. Diakui bupati, untuk penyempurnaan infrastruktur yang ada dibutuhkan anggaran tidak sedikit. Disisi lain, kemampuan pemerintah daerah sangatlah terbatas. Karenanya, Indartato akan membicarakannya dengan Bupati Trenggalek.

Terkait persoalan air bersih, bupati langsung menugaskan tim dari dinas terkait melakukan kajian. Tim teknis itu akan melihat dari dekat ke dasar sungai sekaligus untuk menjajaki kemungkinan penggunaan teknologi tepat guna agar sumber yang ada dapat dimanfaatkan. Dibalik upaya itu, lanjut Bupati, yang lebih penting adalah kesadaran bersama melestarikan mata air yang ada dengan memelihara tanaman penghijauan.(Frend Mashudi)