PACITAN-Kabupaten Pacitan Jawa Timur pecahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan Kemeriahan 5000 Penari Rontek ditambah penampilan mozaik 3D configuratuion 2400 siswa dari seluruh pelosok Pacitan menggoyang Alun-alun hingga Stadion Gelora Arga Lima Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan. Kemeriahan ini menjadi daya tarik yang luar biasa untuk memberdayakan ekonomi kreatif, seni budaya dan juga pariwisata, Sabtu (8/12/2018).

Festival ini dihadiri oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono yang esok harinya, Ahad (9/12/2018) akan juga akan melaksanakan penyuluhan bagi 100 Calon Anggota Legislatif Partai Demokrat. Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono atau biasa disapa Ibas dan Aliya Rajasa Baskoro Yudhoyono sebagai ketua Persaudaraan Istri Anggota Fraksi Partai Demokrat (PIA FPD) yang juga menyelenggarakan Bazar bagi UMKM Mitra Sehati Binaan PIA FPD.

Ibas sebagai salah satu putra kebanggaan Pacitan sangat mendukung dan berbahagia dengan gelaran Festival Rontek 2018, sebab akan membantu masyarakat Pacitan untuk lebih dikenal didunia internasional ataupun lokal.” Kali ini saya bersemangat sekali dengan adanya pemecahan rekor muri penampilan dengan 5000 Rontek ditambah tadi ada penampilan menarik yaitu mozaik 3D dari 2400 siswa se-Pacitan. Dengan terbentuknya rekor MURI ini, harapannya kesenian seni budaya yang di Pacitan semakin lestari, dikenal masyarakat lebih luas lagi,” ujarnya.


Dukungan Ibas bagi kemajuan Pacitan yang masuk dalam daerah pemilihan 7 Jawa Timur begitu besar, segenap hati Ibas terus berkontribusi positif. “Kami akan terus mendorong, mendukung dan berupaya sekuat tenaga untuk membuat Pacitan dan kabupaten lainnya yang masuk dalam Dapil 7 Jawa Timur maju. Pacitan diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa, baik laut, gunung, goa dan juga keanekaragaman kulinernya, mempromosikan Pacitan merupakan bentuk investasi yang sangat berarti,” tutur Anggota Komisi 10 DPR RI ini.

Dengan berbagai ragam kekayaan baik budaya, wisata, kuliner yang ada di Pacitan Ibas mengajak masyarakat untuk terus melestarikan .”Tugas kita sekarang warga Pacitan adalah menjaga, melestarikan, dan mempromosikan seluruh potensi ini agar bisa memberikan manfaat positif bagi kesejahteraan masyarakat Pacitan,” katanya.

Ibas mengaku akan terus mendukung program ‘Wonderful Pacitan’ yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Pacitan, baginya budaya dan pariwisata merupakan dua daya tarik yang harus terus di gali dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.”Budaya dan Wisata adalah hal yang tidak dapat dipisahkan, selalu beriringan dan sejalan. Sementara kebudayaan adalah ciri khas Indonesia, pesona keindahan alam Indonesia adalah hal yang memikat dunia, saya mendukung upaya Pemerintah Kabupaten Pacitan untuk terus memajukan warga melalui ekplorasi wisata dan budaya,” jelas dia.

Masyarakat Pacitan khususnya, menurut Ibas harus terus memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan Pacitan, ia juga mengaku sangat menghargai akun media sosial yang dibuat anak-anak muda Pacitan. “Destinasi wisata Pacitan harus bisa dikenal oleh masayarakat dunia, akan tetapi saya berharap dan berpesan, agar warga Pacitan menjaga kedamaian dan kerukunan beragama agar terus tercipta lingkungan yang aman dan kondusif, dengan lingkungan yang baik, turis akan merasa nyaman untuk singgah dan menikmati keindahan alam Pacitan,” tutupnya.

Sekilas Tentang Festival Tari Ronthek 2018

Tarian Rontek adalah singkatan dari Ronda Tektek awalnya merupakan tarian yang dibuat untuk membangunkan orang sahur pada bulan suci Ramadahan, sebagai kota yang religious para seniman Pacitan menemukan budaya unik dalam menggugah atau membangunkan orang sahur tanpa membuat bising dan marah, salah satu caranya adalah membuat ronda tektek menjadi pemicu semangat untuk bangun sahur, akan tetapi sejalan dengan waktu, rontek malah menjadi kebiasaaan atau jati diri warga Pacitan, falsafah tarian Ronthek itu sendiri adalah semangat dan indahnya silaturahmi.

Tarian Rontek juga tidak bisa dipisahkan dari kentongan Bambu atau tektek. Tetek merupakan kentongan kecil yang terbuat dari bambu dengan berbagai ukuran. Alat ini dimainkan dengan dipukul, seperti halnya kentongan pada umumnya. Besar-kecilnya alat, besar-kecilnya celah yang dibuat dan jenis bambu yang digunakan untuk membuat tetek menjadi salah satu faktor pembeda suara yang dihasilkan.

Festival Rontek pertama kali digelar Tahun 2011 tepatnya 18-19 Agustus 2011 yang dimenangkan Ronthek dari Perwakilan Kecamatan Arjosari. Semakin lama, Festival Tari Rontek menjadi daya tarik karena unik dan menghadirkan keceriaan bagi yang menyaksikannya, lantunan lirik lagu pengiring musik yang dikumandangkan juga membawa pesan moral positif, hingga kini Festival Tari Rontek terus diselenggarakan pemerintah Kabupaten pacitan sebagai ajang menarik turis baik lokal maupun Internasional, bukan lagi diselenggarakan di bulan Ramadhan, tetapi setiap akhir tahun. Festival Rontek Pacitan menjadi agenda rutin dari Disbudparpora (Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga) Kabupaten Pacitan mulai tahun 2011 lalu. Pada awal penyelenggaraannya, festival ini diikuti oleh 2.818 orang dan akhirnya diganjar dengan penghargaan MURI atas pecahnya rekor baru pada kategori permainan rontek.