PONOROGO – Semua tahu, Ponorogo memiliki sejumlah komunitas atau kelompok masyarakat yang memiliki mata pencaharian yang sama. Utamanya memproduksi serta menjual jenis makanan yang seragam. Sebut saja misalnya, Getuk Golan Sukorejo, Gang Sate Kelurahan Nologaten, Jenang Mirah Kecamatan Jetis, Dawet Jabung kecamatan Mlarak, Kampung gamelan Kelurahan Paju, Pengrajin Kulit Nambangrejo Kecamatan Sukorejo dan Sangkar Burung Desa Ketonggo Kecamatan Bungkal. Di sisi Ponorogo barat pun ada satu sentra makanan yang sudah mendarah daging. Yaitu, Kampung Tahu Malon.

 

Warga Dukuh Taji, Desa Gelanglor, Kecamatan Sukorejo sudah berpuluhan tahun menekuni usaha mebuat tahu yang sudah turun temurun menerusan warisan leluhurnya. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Tahu dukuh Taji Gelanglor, sebenarnya tidak beda dengan suasana kampung lainnya. Tidak ada spanduk atau papan yang menunjukkan kalau wilayah ini sentranya tahu. Namun, indra penciuman anda bisa menjadi petunjuk berharga, bahwa ini adalah kampung tahu yang terkenal se-antero Ponorogo itu. Apa sebab? Ya, sepanjang jalan kampung ini anda pasti akan mencium ampas tahu yang khas dihasilkan dari hasil buangan terakhir proses pembuatan tahu.

 

Tidak salah bila lingkungan dukuh Taji ini disebut sebagai kampung tahu. Pasalnya, setiap jengkal rumah warganya pasti memproduksi tahu. Ya, di desa kecil Gelanglor itu terdapat puluhan produksi tahu yang tak kalah lezat rasanya dibanding tahu asal Kediri atau Sumedang. Usaha makanan tradisional ini adalah warisan dari nenek moyangnya dahulu. Warisan yang juga bernilai ekonomis itu kini semakin berkembang diteruskan.

 

Orang desa biasa menyebutnya Tahu asal Gelanglor ini dengan tahu malon, tahu yang terbuat dari gilingan kedelai yang lembut dengan dimensi 3 x 3 x 2 cm dengan rasa gurih, serta lezat ketika dimakan, terutama bila disajikan hangat. Ada tahu gembos juga ada tahu benthet serta tahu putih.

 

Di balik lembut dan gurihnya tahu Malon itu terdapat kerja keras para juragan dan pekerja tahu. Sejak malam hingga pagi hari aktifitas mereka bergelut dengan api, gilingan, dan gorengan. Panas dan pengap. Namun jerih payah mereka terbayar dengan hasil olahan tahu yang cukup lezat dan nikmat itu.

 

Salah satu pengusaha tahu Malon yang terkenal yaitu mbah Muji (66 tahun). Mujilah nama lengkapnya, sudah menekuni tahu hampir seperempat abad lamanya. Tahu sudah menjadi darah dagingnya yang diturunkan dari kedua orang tuanya.“Usaha tahu malon niki kulo nerusne usaha bapak lan ibu. Bapak kulo namine Kasemo, ibu kulo Mariyah,” terang Mujilah kepada Sinergis. Menurutnya, orang yang pertama kali membuat tahu di desa ini adalah Toban (alm). Namun saat ini sudah habis tidak tersisa sama sekali bekasnya. “Kulo nomer papat. Sing disik dewe pak Toban, Pande, pak kulo, trus kulo niki,” sebutnya.

 

Membuat tahu itu sudah turun temurun dilakukannya hingga diteruskan anak-anaknya. Dari lima anaknya, empat diantaranya menjadi pengusaha tahu. Ia bersama anak-anak menekuni secara sendiri-sendiri, menggiling, mencetak, dan menggoreng tahu di pabrik kecil miliknya. Usaha tahu yang turun temurun ini pun dilakoni oleh warga lainnya.

 

Teknologi pembuatan tempe dan oncom masih tradisional, tetapi tahu lebih maju. Jika dulu untuk menggiling kedelai menjadi tepung sebagai bahan baku tahu menggunakan tenaga manusia yang berjalan sambil memutar penggilingan kayu, kini mesin berbicara. Beberapa pabrik tahu yang ada di Malon sejak 18 tahun terakhir sudah menggunakan mesin-mesin sederhana penggilingan kedelai.“Riyen dibantu saking pemerintah mesin giling ipun,” sebutnya. 

 

Sejak pukul 21.00 WIB, Katiran (69 tahun) suami Muji telah sibuk menggiling tahu. Setiap hari ia bisa menghabiskan 5 liter kedelai yang digiling menghasilkan sekitar 300 potong tahu. “Namung sitik mas, 5 liter bendino,” katanya.

 

Suara mesin penggiling kedelai hampir tidak berhenti di dukuh Taji. Setiap rumah atau kepala keluarga menggantungkan hidup dari tahu tersebut. Sayangnya, mereka hanya mengandalkan tungku dari tanah liat biasa. Kompor gas kecil tidak mampu memanaskan tahu dengan cepat. “Nek ngangge kompor alit tahu matenge suwi. Sak jane butuh kompor ingkang ageng genine,. Seng suwaren sossssss ngoten,” katanya.

 

Usaha keluaraga ini pun ia tekuni hingga kini. Semua di jual ke pasar-pasar dan warung di desanya, serta desa-desa sekitar. Biasanya pembeli datang sendiri dan antri membeli tahu ke pabrik Muji, hanya pembelian dalam jumlah besar mendapat fasilitas antar. “Biasane kulo adol teng pasar Tulung Sampung, pasar Klego Pintu Sidorejo lan pasar-pasar lintune,” sebutnya. Musim bulan puasa dan acara keagamaan lainnya, tahunya laku banyak dipesan. “Biasane damel puluran, yasinan lan acara lintune,” katanya.

 

Ia tidak kesulitan mendapatkan bahan baku kedelai yang dikabarkan mulai mahal. Sembari pulang berjualan di pasar ia menukar uangnya untuk membeli lagi bahan utama berupa kedelai. “Kalau pasar habis belinya di Tambakbayan Ponorogo,” akunya. Untuk Urusan untung ruginya ia tidak memperhitungkan secara ekonomis. “Sing penting balik gowo duwit. Asale gak nduwe duwit malih nduwe. Iku wae itungane,” bebernya.

 

Dengan usaha tahunya itu, ia bisa bertahan hidup dan mencukup kebutuhan sehari-hari. Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatiannya terhadap kampung tahu tersebut. “Nopo mawon kulo tampi bantuan saking pemerintah. Mesin giling, kompor gas ageng nopo modal purun mawon,” pungkasnya.

 

 Melihat potensi UKM Kampung Tahu Malon tersebut, Edhie Baskoro Yudhoyono melalui EBY Team Korcam Sukorejo didampingi EBY Team Korkab Ponorogo, Didik Suwito berkenan menyerahkan bantuan kedelai kepada 45 orang pengrajin tahu di Dukuh Taji, Desa Gelanglor, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, Rabu (31/10). Penyerehan bantuan disaksikan oleh Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Kabupaten Ponorogo Dapil VI Ponorogo (Kecamatan Sukorejo, Sampung dan Kauman), Ketua DPAC Partai Demokrat Sukorejo, Kepala Desa Gelanglor Budiyanto dan Kamituwo Dukuh Taji, Puguh. “Semoga bantuan kedelai ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” harap Didik Suwito.

 

Sementara itu Kamituwo Dukuh Taji, Puguh menjelaskan baru Mas Ibas yang peduli terhadap usaha pengrajin tahu di wilayahnya. “Sudah sering ada survei tetapi belum pernah ada bantuan, baru kali ini ada bantuan nyata dari Mas Ibas,” ungkap Puguh Bangga didampingi Kades Gelanglor Budiyanto.

 

Senada dengan Puguh, Mbah Muji, pengrajin setempat juga mengaku bersyukur ada kepedulian dari Mas Ibas. “Niki saged nyambung usaha kulo sedhoyo (Ini dapat membantu kelangsungan usaha kami semua),” tutur Mbah Muji diamini Mbah Joyo dan Mbah Misdi, pengrajin lain. (Muh Nurcholis)