PONOROGO –  Selain DBD (demam berdarah Denguae), penyakit Leptospirosis  atau disebut sakit kencing tikus sedang menyerang wilayah  bumi Reyog Ponorogo. setidaknya, telah ditemukan 17 kasus selama bulan Januari hingga Maret tahun ini. Kebanyakan penderita berada di wilayah Kecamatan Ngrayun.

Padahal selama 2012 hanya ada  seorang yang meninggal dunia. Pihak kabid P2PL (Penanggulangan Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan) Dinas Kesehatan Ponorogo mencatat selama 2013 ini belasan penderita kencing tikus ini semua berasal dari kalangan petani dan penambang pasir.

Sebab, kedua pekerjaan ini bersinggungan dengan tempat becek, yakni disawah dan di sungai  dengan vektor pembawa leptospirosis yakni tikus sering berkeliaran dan meninggalkan kotoran dan air kencingnya. “Biasanya mereka tidak memakai alas kaki saat bekerja,” terang Dr. Pretty Brilliant selaku Kabid P2PL.

Menurut Pretty, Leptospirosis merupakan zoonosis, yakni penyakit pada hewan yang ditularkan pada manusia lewat bakteri leptospira. Seseorang dengan luka dikulit dan terendam air yang sudah bercampur kotoran atau kencing tikus berpotensi tinggi terjangkit leptospirosis.

Dijelaskan, gejala leptospirosis adalah demam tinggi, sakit kepala, nyeri perut, mual, dan nyeri otot terutama pada betis. “Jika tidak segera ditangani , penyakit ini dapat berlanjut pada pembesaran hati, gangguan ginjal, bahan dapat menjadi gagal ginjal dan gangguan pernapasan,” paparnya.

Dia menghimbau warga mewnghindari kontak dengan air kotor untuk menekan peluang leptospirosis. “Kita harus rajin  menutup rapat makanan agar terhindqar dari  pencemaran air kencing tikus, serta rajin membersihkan lantai atau dinding rumah yang terendam banjir dengan densifektan, serta pemakaian sepatu boot serta sarung tangan bagi pekerja yang beresiko tinggi  tertular,” tukasnya. (MUH NURCHOLIS)