Pacitan,

Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menghendaki mega proyek Jalan Lintas Selatan (JLS) rampung secepatnya. Hanya sayang, pengerjaannya masih terganjal pembebasan lahan, terutama pada areal sepanjang dua kilometer di Desa Jetak,  Kecamatan Tulakan.

 

Demikian disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto, dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Selasa (1/11). Untuk kepentingan tersebut, pihak Kementerian PU telah menyiapkan anggaran. Hanya saja, untuk mekanisme pembebasan dan pembayaran sepenuhnya tanggung jawab pemerintah kabupaten.

 

“Saya minta agar masalah pembebasan tanah itu bisa diselesaikan secepat mungkin sehingga mempercepat penyelesaian JLS. Tapi dengan catatan semua proses pembebasan tanah ditanggung Pemerintah Daerah,” tegas Djoko Kirmanto di Pendopo Kabupaten Pacitan.

 

Djoko sangat menyesalkan, proyek jalan yang membelah Pantai Selatan itu tak kunjung selesai gara-gara pembebasan lahannya yang masih alot. Padahal, kata dia, setiap tahunnya pemerintah sudah mengalokasikan anggaran cukup besar. “Proyek tersebut sudah lama diprogramkan. Tapi sampai sekarang belum juga selesai. Kita berharap, akhir 2012 nanti jalan yang menghubungkan Pacitan-Hadiwarno itu bisa selesai. Saya optimistis, hal itu bisa diatasi,” ungkapnya.

 

Ditanya soal harga ganti rugi lahan yang masih menuai protes dari sebagian masyarakat pemilik lahan, Djoko Kirmanto menegaskan, pada prinsipnya pemerintah siap membayar berapapun nilai ganti rugi yang muncul atas proyek JLS itu. Asalkan, harga patokannya tidak melebihi yang telah ditentukan tim independen pembebasan lahan.

 

Sementara, Wakil Bupati Pacitan, Prayitno, juga berharap silang sengkarut seputar pembebasan lahan JLS itu segera berakhir. Ia pun sangat optimis proyek JLS segera tuntas seperti yang dijadwalkan oleh Kementerian PU tersebut.

 

Bangun Instalasi Pengolahan Air

Pemerintah akan terus memantau daerah-daerah yang tergolong rawan kekeringan sebagai upaya untuk mengurai persoalan air bersih bagi wilayah yang sering dilanda bencana kekeringan. Djoko Kirmanto berharap persoalan tahunan yang kerap dialami masyarakat di wilayah barat Kota Pacitan tersebut segera teratasi.

 

“Pemerintah akan terus berupaya mewujudkan pelayanan kebutuhan air bersih ini kepada masyarakat sebanyak-banyaknya. Caranya, dengan mencari serta memanfaatkan sumber air lokal yang potensial untuk diolah dan dikonsumsi masyarakat. Salah satunya adalah dengan membangun IPA (instalasi penyediaan air),” kata Djoko Kirmanto.

 

Menurutnya, IPA yang rencananya bakal dibangun di Kecamatan Donorojo tersebut berkapasitas sangat besar, sekitar 40 liter/detik, sehingga bisa menjangkau ketersediaan air bersih bagi 20 ribu jiwa yang tersebar dibeberapa desa yang ada di kecamatan tersebut. Selain memantau daerah rawan air bersih, Menteri PU juga ingin memastikan berfungsinya beberapa instalasi penyaluran air bersih yang sudah dibangun dan telah ada. Salah satunya, meninjau revitalisasi pengelolaan air bersih di sumber air Kedungbanteng, Desa Sekar, Kecamatan Donorojo.

 

“Kita berharap, upaya revitalisasi oleh pemerintah pusat ini mampu menjadi solusi pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat banyak. Dengan kapasitas yang lebih besar, maka cakupannya juga akan lebih luas. Apalagi kecamatan di Pacitan barat selalu mengalami problem air bersih setiap tahunnya,” terangnya.

 

Tak hanya itu, menurut Djoko, Kabupaten Pacitan secara umum juga membutuhkan perhatian lebih karena termasuk salah satu daerah yang debit airnya kurang. Rencananya proyek ini akan rampung akhir tahun ini.

 

Wilayah Pacitan yang sebagian besar pegunungan merupakan daerah dengan permasalahan air bersih cukup sulit. Apalagi jika kemarau terjadi sangat panjang. Bagi sebagian masyarakat yang tempat tinggalnya belum terlewati pipa PDAM, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan membeli atau mengharapkan dropping air bersih dari pemerintah daerah.

 

Untuk melayani seluruh masyarakat, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) masih menghadapi beberapa kendala. Diantaranya, kondisi topografi wilayah yang sulit serta sebaran penduduk yang tidak merata. Sementara, sumber air yang dapat dimanfaatkan baru sebatas sumber di Dusun Barong, Desa Candi (Kecamatan Pringkuku), dan Desa Kedungbanteng (Kecamatan Donorojo).

 

Tercatat, sampai saat ini jumlah pelanggan PDAM sebanyak 4000. Masih ada 1500 calon pelanggan yang harus antre dalam daftar tunggu serta 1600 calon pelanggan lain yang belum dapat dijangkau karena belum terpasang pipanisasi.

 

Direktur PDAM Pacitan, Rianto, mengatakan, ketersediaan baku air bersih di Pacitan sebenarnya masih mencukupi untuk kebutuhan warga di 3 kecamatan, yaitu Pringkuku, Punung, dan Donorojo. Apalagi, kapasitas debit air yang ada di sumber Maron, Kecamatan Pringkuku, sekitar 175 liter/detik. Sedangkan konsumsi masyarakat masih sekitar 20 liter/detik. “Intinya sumber Maron itu masih bisa meng-cover warga di 3 kecamatan,” tuturnya.

 

Namun, untuk mengatasi krisis air bersih, pada tahap awal nanti akan dibangun setidaknya 8.000 sambungan perpipaan ke 8 desa. Diantaranya Gondosari, Ploso, Tinatar, Gelinggangan, Pelem, Ngadirejan Utara, Belah, serta Donorojo.

 

Hernawan Priyana