Ponorogo – Menjelang tahun politik 2014 di Bumi Reyog dipanasi dengan perhelatan sejumlah Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Bahkan 199 Pilkades tersebut sudah mulai digelar secara bertahap sejak akhir April silam. Oleh beberapa kalangan, ajang demokrasi langsung tersebut bisa menjadi ajang pemanasan menjelang Pemilu Legislatif tahun depan, bahkan, menjadi test case pemilukada 2015 mendatang.

Asumsi itu agaknya tidak berlebihan. Pantauan  www.edhiebaskoro.com   di sejumlah desa yang sudah melaksanakan Pilkades, figur-figur yang telah mendaftar di partai Politik sebagai Bakal Calon Anggota Legislatif (bacaleg) maupun telik sandi partai tertentu, tampak mulai membuka dialog dengan mereka-mereka yang akan bertarung di Pilkades.

Pengamat politik lokal Ponorogo, Fajar Pramono menilai sosok Kades dianggap menguasai territorial atau wilayah. Sehingga banyak parpol yang ingin nunut mencari akar rumput dalam perhelatan tersebut. “Tapi perlu disadari para Parpol harus ekstra hati-hati agar tidak jadi boomerang di kemudian hari,” kata Fajar Pramono, Selasa (14/5). Menurutnya, kalau parpol salah mengatur strategi maka akan merugikan parpol itu sendiri.

Selain bisa menjadi lumbung suara saat yang bersangkutan mencalonkan diri pada Pemilu legislatif (Pileg) tahun depan, sikap silaturahmi yang mulai diperankan oleh para bakal calon anggota legislatif, menjadi tolok ukur dalam mengetahui kekuatan suara terhadap dirinya.

Sementara Yusuf Harsono pengamat politik Ponorogo mengindikasikan di lapangan bahwa Pilkades yang sudah dilakukan di beberapa desa di Ponorogo merupakan bentuk test case dari pemilik sosial network. Tanpa disadari oleh para calon kepala desa (cakades) bahwa desa tertentu sedang menjadi kelinci percobaan pemilik jaringan sosial tersebut. Mereka mencoba berbagai strategi lapangan yang sudah dirancang untuk diterapkan pada saat Pilkada nanti. “Strategi yang dimaksud diantaranya adalah bagaimana mengikat dan mengendalikan masa secara efektif,” bebernya.

Selain itu, kata Yusuf, ada juga yang mengindikasikan bahwa pilkades dianggap sebagai simulasi politik yang terus dipantau oleh para caleg dalam pileg mendatang. Namun, Yusuf menilai langlah caleg yang menganggap bahwa pilkades sebagai simulasi politik sebagai suatu yang sulit. “Saya khawatir caleg akan frustasi. Sebab, mempredikasi perilaku politik massa pada saat pileg lebih sulit bila dibanding saat pilkada. Karena faktor yang mempengaruhi pilihan orang pada para caleg lebih banyak, diantaranya dalah ideologi, partai dan religi para caleg. Diluar itu, masih banyak faktor lain yang perlu dicermati,” jlentrehnya.

Dikatakannya, hampir bisa dipastikan adalah bahwa para caleg hanya bisa mengamati perilaku politik masyarakat pada saat pilkades. “Jaringan politik pada saat pilkades, pileg dan pilkada akan sama sekali berbeda. Sementara itu jaringan pileg akan paling sulit dijaga para caleg,” pungkasnya.

Dari 2 kali putaran Pilkades di Bumi Reyog diwarnai  banyak kejutan. Beberapa srikandi berhasil melenggang mulus menjadi jawara Pilkades. Begitupula banyak calon incumbent yang tersungkur.

Beberapa srikandi yang mengikuti Pilkades antara lain Endah Erlinawati, SE terpilih sebagai Kepala Desa Nailan, Kecamatan Slahung dengan meraup 1.017 suara dari 1.047 suara sah.

Sementara Ririn Rahmawati melenggang menjadi Kepala Desa Jetis, Kecamatan Jetis setelah memenangkan Pilkades dengan meraih 553 suara, sementara rivalnya Aris Pujianto hanya meraih 533 suara.

Bibit Wahyuni memenangi Pilkades Tugurejo, Kecamatan Sawoo dengan meraup 796 suara. Sementara Ninik Setyowati berhasil melenggang menjadi Kades Bajang, Kecamatan Balong setelah memenangi Pilkades dengan meraih 1.105 suara. Pun pula Yeni Mariana memenangi Pilkades Campursari, Kecamatan Sambit.

Kejutan lainnya terjadi dibeberapa desa, seperti di Desa Padas, Kecamatan Bungkal. Calon Patahana atau Incumbent dikalahkan oleh wajah baru, mantan kepala desa Padas, Turut Santoso (637 suara) dikalahkan oleh Miswanto (906 suara).

Begitu juga Suwarni (705 suara), mantan Kepala Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal juga harus mengakui keunggulan Agus Setyono (1.339 suara). Sedangkan Suwarno (530 suara) mantan kepala desa Brahu, kecamatan Siman harus rela melepas jabatan Kadesnya setelah dikalahkan Suparni (885 suara).  Di Desa Sambit, Kecamatan Sambit, calon incumbent Joko Santoso hanya mendapat 557 suara dihempaskan Tubiyanto yang meraih 692 suara.

Hal yang sama juga terjadi di Desa munggung, Kecamatan Pulung, incumbent Sri Handayami (1.128 suara) dikalahkan Moh Ashari (1.653 suara). Di Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, Andri Catur Darminto meraih 1.187 suara ditumbangkan Sukamto yang mengumpulkan 1.324 suara. Sementara calon patahana Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, Langgeng Widodo hanya meraih 656 suara dikalahkan Tugimin yang meraup 830 suara. (MUH NURCHOLIS)