JAKARTA — Beberapa pihak menuding kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) saat ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

Menanggapi pernyataan tersebut, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) berpendapat setiap pemerintahan mempunyai dinamika dan tantangan yang berbeda. sehingga tidak bisa dibandingkan antara pemerintah sebelumnya dengan saat ini.
“Tentunya sangat tidak bijak kalau kita menyalahkan pemerintahan sebelumnya, setiap pemerintah punya problematika yang berbeda,” katanya.
Ibas mengatakan, ketika SBY mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM, saat itu harga minyak mentah dunia memang naik dan harga tersebut jauh di atas asumsi dalam APBN. Sehingga kenaikan harga BBM menjadi pilihan untuk menekan besaran subsidi.
Tetapi, lanjut Ibas, saat ini harga minyak dunia justru turun drastis dan jauh di bawah asumsi sebesar 105 dollar/barel. Ibas mengatakan, dalam Undang-Undang tentang APBNP 2014, pemerintah bisa menaikkan harga BBM jika harga asumsi meningkat lebih dari 15 persen.
Karena itu, lanjutnya, menaikkan harga BBM saat ini dinilai tidak tapat. Kalaupun ada kenaikan harga yang tidak bisa dihindarkan, Demokrat meminta pemerintah menyiapkan program-program kepada rakyat miskin
“Kami menuntut, kalau dinaikkan tolong perhatikan rakyat miskin. Baik sementara maupun jangka panjang,” katanya