Liputan6.com –  Airlangga Satriadhi yang sempat dirawat di RS, prahara Partai Demokrat, hingga tuduhan yang dialamatkan pada Edhie Baskoro Yudhoyono soal dugaan menerima dana sekitar US$ 200 ribu dari perusahaan Muhammad Nazaruddin, adalah cobaan yang harus dilalui keluarga Susilo Bambang Yudhoyono. 

Terutama bagi Ibas. Putra bungsu SBY yang lebih banyak diam menghadapi tudingan atas dirinya. Namun, ia berkata, “orang diam pun ada batas kesabarannya.” Dan sebagai manusia, “saya masih punya harga diri.”

Keluarga ikut merasakan apa yang Ibas rasakan dan selalu mendukungnya. Doa khusus pun dipanjatkan SBY untuk dua putra kesayangannya. “Janganlah kau beri jalan yang lunak bagi anak-anakku. Tapi kalau dia menghadapi banyak masalah, berilah kekuatan,” tutur Yudhoyono.

Curahan hati Ibas disampaikan khusus pada Retno Pinasti dan Mochamad Achir dari SCTV di Wisma Negara Jakarta. Didampingi SBY, Ibu Negara Ani Yudhoyono, dan Agus Harimurti Yudhoyono.

Wawancara lengkap ditayangkan di SCTV, dalam program bertajuk, “SBY dan Keluarga Bicara” pada Rabu (20/3/2013).

Berikut petikan wawancara dengan keluarga SBY:

Retno: Mas Ibas nih yang lebih banyak dihantam isu, bagaimana tanggapan Mas Ibas? Karena selama ini jarang sekali lho bicara kepada media

Ibas: Saya putuskan masuk ke dunia politik tentunya dengan segala persiapan. Tapi saya tidak menyangka, politik ternyata tidak bisa diprediksi. Tidak seperti matematika, rumusannya pasti.

Saya merasakan tantangan itu besar. Tidak hanya intrik, rumor, tapi juga banyak tuduhan, fitnah. Untuk diri saya yang masih yunior, masih muda, belum banyak pengalaman di dunia politik. Saya berat.

Saya melihat seperti Bapak SBY dan Ibu Ani tentunya lebih besar. Saya tidak ada sejengkal kelingkingnya bahkan. Tetapi inilah yang saya rasakan, termasuk yang akhir-akhir ini terjadi pada diri saya sendiri.

Saya sampaikan, tuduhan yang dituduhan kepada diri saya bahwa saya menerima uang, tidak benar. Saya menghargai proses demokrasi, saya mengahargai kebebasan pers. Tapi kebebasan pers yang beretika. Tentunya harus diklarifikasikan kepada yang bersangkutan.

Saya juga memiliki harga diri. Saya memiliki keluarga. Saya mengatakan itu tidak benar. Hal-hal seperti inilah yang saya jelaskan ke publik tapi memang terkadang saya banyak diam, tidak banyak bicara ke publik.

Tapi orang diam pun ada batas kesabarannya. Orang diam pun bisa berbicara dari hati dan apa yang dirasakan selama ini. Tapi kalau tuduhan dan lain sebagainya, seperti apa yang disampaikan ibu, kami diajarkan untuk lebih sabar, lebih tabah, dan lebih kuat. Inilah dunia politik. Inilah kehidupan.

Bukan hanya dunia politik, tapi di mana saja kita juga akan menghadapi cobaan.

Achir: Ini kan tuduhan menerima uang, nah soal yang memutuskan untuk mundur dari DPR. Apa alasan utamanya?

Ibas: Betul, saya memutuskan mundur dari DPR. Ini keputusan berat, saya sudah dipilih, diamanatkan oleh rakyat. Di Dapil VII Jawa Timur — Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Trenggalek, dan Magetan. Dan ini hasil pemilu demokratis, saya menjadi anggota DPR. Tentunya saya memiliki tanggung jawab yang besar. Wakil rakyat, punya tanggung jawab besar.

Saya menyadari, harus menjalani secara utuh. Ingin menyuarakan aspirasi masyarakat. Selama 3,5 tahun, saya menjalankan tugas untuk masyarakat. Ini tugas sangat mulia. Saya terimakasih untuk masyarakat yang memilih saya.

Seperti apa yang saya sampaikan dalam surat pengunduran diri saya dan saya tujukan langsung kepada pimpinan DPR, Ketua Fraksi. Kalau nggak salah tanggal 14 Februari, pas hari kasih sayang, sangat spesial bagi saya. Ini sudah saya konsultasikan pada keluarga, istri saya. Apa yang saya lakukan, apakah ini sudah benar.

Mengapa saya mundur? Itu tadi, saya harus bisa membagi tugas. Diketahui saya ini berasal dari Partai Demokrat. Saya juga ditunjuk sebagai Sekjen. Untuk jalankan roda Demokrat bersama-sama pengurus yang lain. Ketika itu semua tugas partai dan tugas di DPR bisa saya bagi waktu dan bisa saya jalankan, itu tidak jadi masalah. 

Tetapi ketika ketika situasi berubah, banyak hal terjadi, menimpa partai saya, partai kami semua. Maka tentunya ini menjadi langkah yang saya lakukan. Saya ingin fokus, mencurahkan diri saya, pikiran saya, dan ikut menjadi bagian dalam penataan Partai Demokrat ke depan. Supaya Demokrat tetap seperti yang diharapkan masyarakat. Partai yang bisa membawa kebaikan seperti yang selama ini ditunjukkan Pak SBY. Memberikan program yang bermanfaat dan terus dikembangkan hingga besok-besok. 

Achir: Berat itu. Tapi nggak kapok ya, Mas. Tetap jadi politikus?

Ibas: Komitmen saya tetap. Saya akan tetap dalam politik. Selama itu masih dikehendaki, selama masih dibutuhkan. Tenaga dan pikiran. Masa depan saya masih jauh, saya tidak akan berpikiran pendek. Tentunya saya akan banyak belajar, menimba ilmu, banyak berguru, dan sebagainya. 

Satu hal yang perlu digarisbawahi, saya akan menjalankan politik sesuai doktrin yang diajarkan Bapak dan ada di kepala saya selama ini, sebagai Ketua Dewan Pembina, Ketua Majelis Tinggi, marilah kita berpolitik secara cerdas dan santun. 

Berpolitik dilakukan secara beretika. Tidak harus berpolitik secara kasar, hitam, atau intrik penuh dengan isu-isu tertentu. Itulah yang ingin saya tanamkan.

Retno: Ini Mas Ibas termasuk sabar ya, kalau yang lain, ada omongan dibalas omongan lagi. Timpal-tempel perang di media. Kenapa Mas Ibas memilih diam?

Ibas: Saya akan mengukur sejauh mana isu itu berkembang. Bukan berarti hanya sejauh mana isu itu bergulir. Tapi kalau itu bergulir dan menyangkut prinsip hidup, harga diri, itu akan saya lakukan.

Saya berpikir, untuk kasus tertentu yang menimpa saya. Saya berpikir bagaimana saya akan menempuh jalur hukum. Mari kita budayakan menegakkan hukum. Kalau ada sesuatu yang tidak pas kita laporkan ke penegak hukum. Ke Dewan Pers kalau itu menyangkut pemberitaan. Kalau itu menyangkut nama baik, ya tentunya kita memiliki langkah di jalur hukum, ke kepolisian menyangkut pencemaran nama baik.

Tapi kalau hanya isu-isu sederhana, mohon maaf, misalnya kalau kehilangan spion, jatuh kepleset pisang, saya tidak akan tempuh jalur seperti ini.

Achir: Sedikit Mas Agus, ini kan tekanan untuk Mas Ibas besar.

Agus: Tentu saya memberikan simpati ya, karena kami dari kecil itu selalu ada kesenangan dan kesedihan, selalu dibicarakan bersama. Mudah-mudahan ada solusi yang baik.

Saya sebagai anak tentu full support orang tua saya, dan sebagai kakak, saya mencoba merasakan yang Ibas rasakan. Dengan usia yang relatif muda, begitu banyak permasalahan dan juga cobaan hidup.

Saya selalu katakan, ini sekolah kehidupan, tidak didapat di sekolah formal. Tetapi mudah-mudahan dengan menyikapinya dengan tepat, cerdas, tegar, sabar, kita akan fokus untuk naik ke level berikutnya.

Dan sesuai dengan doa bapak sebetulnya, bahwa tolong anak-anaknya diberikan bukan diberikan kemudahan, tapi pada saat bersamaan, juga diberikan kekuatan untuk menjalankannya.

Filosofinya, semakin kita ditempa, maka kita akan semakin kuat, dan semakin bermanfaat.

SBY: Ada seorang jenderal, Douglas Macarthur. Ia pernah mendoakan anak-anaknya kurang lebih sama dengan pendirian saya.

Ya Tuhan, janganlah kau beri jalan yang lunak bagi anak-anakku. Tapi kalau dia menghadapi banyak masalah, berilah kekuatan. Untuk bisa mengatasi persoalan itu. Saya pikir itu relevan untuk anak-anak saya.

Ketika kami menghadapi amanah dan badai, guncangan sebegini berat, maka resep itu saya yakini benar.

Retno: Dalam keluarga kalau ada masalah curhatnya sama siapa?

Bu Ani: Saya pikir dalam keluarga, kita selalu berbagi, saling mengatasi masalah. Kalau ada masalah, mudah-mudahan kita bisa cari solusi yang terbaik.

Kalau kita ketemu, seperti Bapak tadi sampaikan, kualitas yang paling utama. Di sinilah biasanya mereka akan bercerita, mau bahagia, mungkin ada masalah. Mungkin curhat.

Kadang-kadang, anak-anak curhat pada saya, karena ibunya. Apalagi yang remeh-temeh, lebih sering pada ibunya. 

Tetapi, kalau lebih tinggi lagi masalah yang dihadapi, maka kita akan lari kepada Bapak.

Saya sama bapak juga sama, saya nggak tahu apakah bapak sebel sama saya, saya sedikit-sedikit cerita. Itulah bawaan ya, saya sebagai istri, saya ingin semua selalu ceritakan. Baik itu kepada suami ataupun kepada anak-anak. Intinya kita saling sharing-lah.

Retno: Bapak sebel nggak?

SBY: Itulah bunganya kehidupan. Itu tandanya sayang satu sama lain, caring and sharing. Mudah-mudahan keluarga kami bisa saling mengatasi segala permasalahan.(Sah/Ein/liputan6.com)