JAKARTA-Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono membantah ikut menyaksikan penyerahan uang Hambalang sebesar Rp miliar dari Machfud Suroso kepada Andi Zulkarnain Mallarangeng Putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menganggap pernyataan bekas Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin itu sebagai pembunuhan karakter Janganlah membawa isu dengan mengaitkannya ke saya Semua itu ngawur dan diada-adakan Semoga hukum tegak lurus ujar Edhie Baskoro sering disapa Ibas Yudhoyono, melalui pesan pendek kepada Tempo kemarin.

 

Hal ini bermula dari pengakuan Nazarudin di depan penyidik KPK. dalam dokumen Laporan Hasil Penyelidikan yang dimiliki Tempo, Nazaruddin menyebut Ibas menjadi saksi penyerahan uang Rp 10 miliar dari Machfud Suroso, Direktur PT Dutasari Citralaras, selaku subkontraktor proyek Hambalang, kepada Andi Zulkarnain Mallarangeng. Nazaruddin menyebutkan, Ibas sedang bersama Choel di Mall Grand Indonesia saat Machfud menyerahkan uang itu. “Machfud menceritakan bahwa dana untuk Menpora sebesar Rp 10 miliar telah dberikan melalui Choel di Grand Indonesia yang disaksikan Ibas Yudhoyono,” kata Nazaruddin dalam dokumen tersebut.

 

Ibas menegaskan tak pernah tahu ada kejadian penyerahan uang itu. “Seribu persen, Saya ulangi, seribu persen, berita itu tidak benar,” katanya. Dia kembali menegaskan kabar yang diembuskan Nazaruddin adalah skenario politik. Ibas pun menyatakan siap mempertanggungjawabkan keterangannya ini dunia-akhirat. “Di negeri ini banyak orang yang menjadi korban oleh pembunuhan karakter,” ujar anggota Komisi Pertahanan DPR RI itu.

 

Rizal Mallarangeng, juru bicara keluarga Mallarangeng, menilai keterangan Nazaruddin soal uang Rp 10 milliar tersebut ada yang tidak sesuai. Namun, menurut dia, jika KPK mempercayai keterangan Nazaruddin, silahkan saja memeriksa Ibas sebagai saksi,” katanya.

 

Namun Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MaKI) meminta KPK memeriksa Ibas. Menurut Boyamin Saiman, Koordinator MaKI, kesaksian Ibas bisa mengurai keterlibatan sejumlah pihak. ” Semua pihak yang diduga berkaitan harus diperiksa, termasuk Ibas,” ujar Boyamin.

 

Pemeriksaan atas Sekjen Partai Demokrat itu, menurut Boyamin, sekaligus mengklarifikasi tudingan-tudingan terhadap Ibas. Direktur Advokasi Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada Oce Madril berpendapat senada. (koran tempo)