NGAWI-Tidak seperti biasanya kebutuhan sembako bisa naik tiga kali lipat lebih dari harga sebelumnya. Seperti  dirasakan para pedagang dipasar besar Ngawi. Kini mereka hanya bisa pasrah terkait harga bawang putih dan bawang merah yang kian melambung harganya.

Menurut Wati (40) salah satu pedagang sayur mayur pasar besar Ngawi akibat kenaikan harga bawang tersebut semenjak seminggu ini penjualanya menurun drastis hingga 60 persen.

Dia menjelaskan, sekarang harga bawang putih menembus Rp 50 ribu per kilogram padahal sebelumnya harga berkisar antara Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Sedangkan untuk harga bawang merah juga tidak mau kalah ikut meroket naik dari Rp 10 rb perkilogram namun saat ini tembus harga Rp 40 ribu.

“Kenaikan kita rasakan baru satu minggu ini, akibatnya jumlah pembeli menurun,  biasanya saya mampu menjual satu kwintal bawang berbagai jenis setiap harinya akan tetapi sekarang hanya 10 sampai 20 kilogram saja,” ujar Wati, Kamis (14/3).

Kenaikan harga bawang tersebut menurut Wati dipicu kelangkaan stok dari pihak distributor karena pasokan dari petani berkurang. Padahal tegas Wati, bawang yang didatangkan itu bermerk Royal Phoenix Garlic hasil impor dari China. “Memang sangat aneh kalau dibahas, padahal selama ini bawang yang kita datangkan merupakan produk China bukan hasil pertanian dalam negeri,” gerutu Wati.

Sebagai pedagang yang sudah beroperasi puluhan tahun di pasar besar Ngawi, dirinya menganggap kelangkaan dua komoditas hortikultura bawang putih maupun merah dipicu oleh para spekulan yang nakal. “Jangan-jangan dari sananya sudah ada permainan atau mungkin memang ada unsur kesengajaan penimbunan terhadap bawang putih maupun bawang merah,” tukasnya.

Akibat kelangkaan stok, Wati mengaku hanya bisa membeli antara satu sampai dua kwintal bawang dari distributor asal Mojokerto Jawa Timur. Padahal sewaktu harga normal dirinya mampu menyetok 1 ton bawang dan akan habis dalam kurun waktu satu bulan.

Kegelisahan para pedagang di pasar besar Ngawi akan kenaikan harga bawang tersebut langsung direspon Mukshon Hariyadi,SH salah satu anggota LSM Bhirawa wilayah Ngawi. Kupasnya, kenaikan kedua komoditas hortikultura yang berlipat tersebut adanya dugaan para spekulan yang menahan pasokan bawang di dalam negeri dan mengambil keuntungan dari kenaikan harganya. Selain itu Mukshon menilai tidak lepas banyak importir bodong yang memperjualbelikan kuota impor. “Seharusnya pihak pemerintah segera turun tangan terkait kendala yang makin mencekik rakyat jangan pangku tangan saja, dan guna mengantisipasi kelonjakan harga bawang pemerintah segera membuat program jangka panjang agar nantinya pemerintah tidak kecolongan oleh spekulan yang sengaja mempermainkan harga,” pungkas Mukshon Hariyadi,SH. (Ardian)