PACITAN-Sentra kerajinan batik khas Pacitan berpeluang menjadi destinasi wisata baru selain wisata alam yang selama ini menjadi primadona. Besarnya sumber daya yang dimiliki kabupaten Pacitan sangat potensial untuk membentuk desa wisata batik
Inilah gambaran yang disampaikan ketua Lembaga Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Pengembangan Pendidikan (LPP MPP) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Dr. Pramutomo, S.Kar, M.Hum dalam seminar perancangan desa wisata batik di Kabupaten Pacitan, Selasa (12/01). Menurutnya, setiap daerah memiliki potensi untuk dikembangkan termasuk Pacitan.
Pengembangan desa wisata menurut Pramutomo, akan menjadi produk wisata alternatif yang dapat memberi dorongan bagi pembangunan pedesaan. Tentunya, dengan memanfaatkan potensi yang ada serta menguntungkan bagi masyarakat itu sendiri. Desa wisata merupakan bentuk integritas antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang tersaji dalam sendi kehidupan masyarakat.
Sementara itu, menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Pacitan Suko Wiyono, upaya menjadikan desa wisata batik ini cukup menguntungkan bagi para pelaku batik. Jika selama ini promosi gencar melalui sebuah pameran dengan desa wisata batik peluang pasar akan terbuka sendirinya. Terlebih, memasuki era baru Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menuntuk pelaku usaha untuk bersaing.
Senada, ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Luki Indartato mengatakan, perkembangan pengrajin batik Pacitan dari tahun ketahun terus berkembang. Dari 12 kelompok di tahun 2013 menjadi 14 kelompok di tahun 2015. Dengan total pengrajin sebanyak 602.Nilai omzet yang dihasilkan mencapai Rp.11 milyar lebih. Sentra terbesar berada di Kecamatan Ngadirojo sebanyak 11 kelompok pembatik.(frend)