PONOROGO – Ironis sekali, di tengah julukan Ponorogo sebagai Kota Santri saat ini malah tercoreng dengan tingginya angka permasalahan kriminalitas. Salah satunya adalah Miras atau Minuman Keras.  Miras masih menjadi yang momok yang menakutkan, bagi citra Ponorogo di Jawa Timur. Hal itu harus sesegera mungkin mendapatkan perhatian untuk di tanggulangi. Karena Ponorogo menempati Nomor 3 se-Jawa Timur dalam hal minuman keras itu.

Sudah lebih dari dua tahun lebih rancangan Draf Raperda belum di buat. Bupati Ponorogo, Amin  nampaknya masih ragu-ragu dalam membuat Draf  Raperda soal miras. “Peraturan itu harus memenuhi beberapa unsur, diantaranya harus ada sanksi atau hukuman setiap pasalnya. Sehingga harus dikaji benar-benar dan harus melibatkan DPRD Ponorogo,” kata Amin, Sabtu (23/3).

Sebelumnya, Kapolres  Ponorogo, AKBP Yuda Gustawan siap untuk membantu membuat Raperda dan masukan, karena Draf Raperda soal miras dianggap penting. “Ini semua untuk menekan  peredaran miras dan menekankan angka kriminalitas di Kabupaten Ponorogo,” ujar AKPB Yuda Gustawan.

Dia juga menjelaskan  kalau  wilayah Kabupaten Ponorogo adalah wilayah perbatasan antar propinsi, yang mana itu menjadikan miras dari luar Ponorogo mudah untuk masuk ke dalam wilayah hukum Polres Ponorogo. “Sehingga kota-kota lain dengan mudah mengambil miras dari Ponorogo,” jelasnya.

Lebih lanjut pria kelahiran Magetan ini  juga memaparkan setiap kali ada razia miras, miras yang didapatkan bukan hanya 10 atau 20 liter, bisa sampai ribuan liter. “Miras didominasi Arak Jowo atau Arjo,” terangnya.  Beda halnya dengan masalah Narkoba, Ponorogo hanya sebagian kecil pengedar sedangkan bandar-bandarnya ada di wilayah luar Ponorogo. (Muh Nurcholis)