PONOROGO  (edhiebaskoro.com)– Kabupaten Ponorogo ternyata memang menyimpan sejarah masa lampau, yakni masa kerajaan Majapahit. Terbukti sudah banyak diketemukan bukti sejarah yang ada di 307 Desa/Kelurahan yang ada di Kabupaten Ponorogo.  Bukti terbaru adalah diketemukan sebuah  Arca oleh sorang pria. Pria pekerja bangunan yang sedang menggali pondasi pagar di halaman SMPN 1 Kauman, Dukuh Candi, Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman, Ponorogo  terkejut setelah cangkulnya membentur sebuah batu, yang setelah digali perlahan-lahan, ternyata batu itu adalah sebuah arca berbentuk perempuan yang diperkirakan berusia ribuan tahun.

Adalah Supriyono (53) warga Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Tonatan, Kecamatan Ponorogo mengungkapkan, dirinya dan anaknya, Dika Prihartanto saat itu, pada Rabu (19/2) silam, diminta pihak sekolah untuk membuat pagar keliling di sekitar tumpukan batu bata yang menyerupai candi itu.

Setelah menggali pondasi sedalam 20 cm, tiba-tiba cangkulnya seperti membentur tumpukan batu bata, dan saat di gali lebih dalam, ternyata cangkul tersebut menghantam batu arca berbentuk perempuan berwajah cantik.

“Cangkul anak saya menghantam batu keras di dalam tanah, kemudian saya minta untuk menggali lebih dalam dengan cara lebih pelan agar cangkul tidak rusak. Tapi kemudian saya melihat ada batu warna putih mirip arca yang selanjutnya kami angkat dan kami amankan,” jelas Supriyono.

Setelah mengetahui jika yang membentur cangkulnya ternyata arca, Supriyono pun segera melaporkan kasus penemuannya itu ke Kepala SMP Negeri 1 Kauman dan Kepala Desa Nongkodono. “Saya angkat dan saya bersihkan terlebih dahulu, baru kemudian kami laporkan,” tuturnya.

Saat secara lebih detil, ternyata arca itu berbentuk perempuan dengan tinggi 70 sentimeter, lebar 35 sentimeter, tebal 20 sentimeter serta berat 70 kilogram.

Sementara itu, menurut Antok Kartiko, pemerhati benda-benda purbakala di Ponorogo, menjelaskan arca yang terbuat dari dari batu andhesit tersebut diperkirakan berasal dari kerajaan Mataram Hindhu sekitar abad VIX sampai X.

“Jika melihat ornamen dan bentuk arca yang ditemukan penggali pondasi di halaman sekolah ini, kami menduga arca berbentuk perempuan cantik dengan tangan di dada ini terbuat sekitar 1000 tahun silam. Biasanya disebut Arca Bethari Durga. Arca ini biasanya digunakan dan dipasang pada relief-relief candi,” terangnya.

Sementara itu, Sapto Jatmiko Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, belum bisa menyimpulkan tentang temuan arca ini, pihaknya  sudah  melaporkan ke Balai Balai Penelitian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto.

Dan benar setelah kedatangan tim Badan Pelestarian Cagar Budaya(BPCB) serta  melakukan kajian awal, pada Sabtu (23/2), berhasil sedikit membuka tabir Penemuan arca di Dusun Candi, Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman, Ponorogo.

Menurut petugas Arkeolog dari BPCB Trowulan, Mojokerto, Danang Wahyu Utomo bahwa arca tersebut diperkirakan berasal dari abad 13-14 pada akhir zaman keemasan kerajaan Majapahit. “Kalau dilihat dari gaya atau style yang kaku, dan pahatan yang masih kasar ini diperkirakan dibuat pada zaman Majapahit akhir,” kata Danang.

Arca yang ditemukan di kedalaman 20 senti mater ini, lanjutnya, sulit dikenali jenis kelaminnya. Ini karena bentuk wajahnya sudah aus, tapi berdasar ciri-ciri yang ada, dengan tangan di dada, selendang yang melilit di pinggang, arca seperti ini biasanya merupakan perwujudan dari raksasa sebagai penjaga. “Biasanya ada dua buah arca semacam ini, yang diletakan dipintu gerbang sebuah tempat pemujaan,” imbuhnya.

Arca dengan ukuran tinggi 70 sentimeter, lebar 40 sentimeter, dan tebal 17 senti meter ini banyak ditemukan di kota-kota lain di Jawa Timur, temasuk beberapa waktu lalu juga ditemukan di Kecamatan Dagangan, Madiun dan seputaran Gunung Lawu. Dikatakan pula oleg Danang, untuk mengetahui lebih detail, pihaknya akan mendatangkan tim dari Jogjakarta dan tim dari BPCB Trowulan untuk melakukan penelitian dan kajian lebih lanjut. (MUH NURCHOLIS)