PONOROGO – Nasib kurang mujur dialami para pembatik lokal di Bumi Reyog. Saat ini mereka tengah gundah gulana. Para pembatik  harus menghadapi sepinya order batik baik tulis maupun printing. Imbasnya sampai pada pemecatan puluhan karyawan di UKM (usaha kecil menengah) batik itu.

Keluhan tersebut disampaikan Tofik, pengusaha batik Bintang Tiga Ponorogo timur pabrik es Ponorogo. Pembatik yang beralamat di Jalan Mayjen Sutoyo No 1 Ponorogo dan Jalan Merapi No 24 Ponorogo ini seolah menagih komitmen Pemkab Ponorogo yang berharap dengan adanya batik bisa mengurangi pengangguran di Kota Reyog. Ia menyayangkan dengan langkah Pemkab dan satker khususnya dinas pendidikan yang malah memesan seragam batik di Solo.

“Kalau para pimpinan kita di Ponorogo ini cerdas harusnya tidak order ke luar daerah. Produknya itu dari luar maka perputaran uang bukan di sini (Ponorogo). Pemkab pernah komit dengan produk khas batik merak. Kami tidak iri, tetapi alangkah baiknya ada kerjasama, bukan seperti ini. Persaingan bisnis atau pasar bebas memang tidak bisa dimungkiri tetapi bagaimana komitmen tentang UKM?,” tegas Tofik, Selasa (9/4).

Topik merasa heran, beberapa tahun terakhir ini usahanya tambah lesu. Setelah diusut, ternyata sekolah-sekolah yang biasanya pesan ke dirinya sekarang tidak berani pesan langsung, karena sudah dikoordinir Dinas Pendidikan. Sayangnya, Diknas setempat malah memberikan order seragam sekolah itu pada pengusaha batik di Solo. “Kami menyayangkan kebijakan tak populis itu. Kenapa kami (pembatik) malah dicampakkan. Sekarang produksi kami macet tenaga kerja mulai dikurangi karena sudah tidak ada order,” imbuhnya.

Kondisi ini, kata Topik, beda jauh dibanding pada masa pemerintahan Bupati Markum dan Muhadi yang masih untung karena terus diperhatikan. Saat itu, batik merak buatannya dipesan dan masuk ke satker-satker di lingkungan Pemkab Ponorogo. Batik tersebut sudah banyak dipesan oleh PNS, termasuk Bupati Markum dan Muhadi sudah pernah memakainya di kegiatan Pemkab.

Namun, kini jaman sudah berubah. Dibawah kepemimpinan Bupati Amin, kehidupannya berubah total. Pesanan dari pemerintah kabupaten Ponorogo maupun dinas pendidikan tidak ada sama sekali. Ironisnya, mereka malah pesan kepada pembatik di Solo.  “Ini kan sudah nyleneh dari komitmen pemkab Ponorogo yang gembar-gembor ingin memberdayakan ekonomi lokal dan mengurangi pengangguran melalui UKM batik,” kritiknya.

Ia menyebutkan, sebenarnya Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Ponorogo pernah menyampaikan kepada pembatik bakal memberdayakan pembatik Ponorogo. Namun sampai saat ini rencana tersebut masih belum dilaksanakan.  Ia pun menjamin bisa menyelesaikan pesanaan tersebut sebagaimana mestinya.

“Dari segi harga dan kualitas batiknya tidak kalah jauh berbeda dengan daerah lain. Kami menjamin akan kualitas batik kami. Tolong dengarkan suara kami,” rintihnya. (MUH NURCHOLIS)