Foto: Sekertaris Jendral Partai Demokrat Hinca Panjaitan XII Menemui Dewan Pers Hongkong

JAKARTA – Partai Demokrat menunjukkan keseriusannya menelusuri media Asia Sentinel yang menulis artikel berisi Susilo Bambang Yudhoyono bersama 30 pejabat lain melakukan tindak pencucian uang sebesar USD 12 miliar atau setara Rp 177 triliun. Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan XII diutus ke Hong Kong, tempat media tersebut bermarkas, Jumat (21/9/2018)

Melalui rekaman video yang diunggah di laman Media sosial @abrzki, Sekertaris Jenderal Hinca Pandjaitan XIII dan Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Imelda Sari menyampaikan hasil penelusurannya. Hinca dan tim mengaku sudah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang berkompeten terkait masalah ini.

Hinca mengaku pihaknya menyambangi alamat kantor Asia Sentinel di Jalan Keneddy Road 39 lantai 1A. “Kami pastikan tidak ditemukan, tidak ada saudara John (pendiri Asian Sentinel John Berthelsen), jejaknya pun tidak ditemukan,” ujar Hinca.

Hinca dan tim bergerak ke dewan pers Hong Kong. Mereka mengaku bertemu Chris Yeong komisioner dewan pers Hong Kong. Mereka menanyakan apakah Asia Sentinel terregistrasi, jawabnya tidak. Bahkan, lanjut Hinca, tim dewan pers tidak mengenal Asia Sentinel dan pendirinya yakni John Berthelsen.”Lalu kami bertemu teman-teman jurnalis Hong Kong, kami tanyakan apakah mengenal saudara John dan terdaftar anggota, jawabnya tidak. Kami tanya apa kenal Asia Sentinel jawabnya tidak, “jelasnya.

HInca memaparkan pihaknya bertanya apakah Asia Senitel media yang kredibel, ternyata bisa dipastikan media tersebut abal-abal.  “Kami tanya kepada banyak orang, satu per satu, jawabnya mereka tidak tahu Asia Sentinel. Asia Sentinel kami pastikan tidak kredibel, dalam bahasa Medan disebut abal-abal,” tegasnya.

Dari situ Demokrat semakin yakin artikel yang diberitakan sama sekali tidak benar dan fitnah dari media yang tidak kredibel. Langkah Asia Sentinel meminta maaf dan menarik berita dianggap sebagai perbuatan mulia. Tapi Demokrat tidak berhenti. “Kami tuntaskan seluruh pihak yang ikut menyebarluaskan dan menggoreng ini,” tandasnya.

Hinca mengungkapkan dirinya  dan tim berencana akan kembali ke tanah air dan menyampaikan temuan mereka ke dewan pers.” kami akan menyampaikan temuan ini ke Dewan Pers Indonesia,” ujarnya.

Untuk diketahui, artikel investigasi terkait pencucian uang sebesar USD 12 miliar atau setara Rp 177 triliun itu ditulis langsung oleh pendiri Asian Sentinel John Berthelsen berdasarkan laporan investigasi sebanyak 488 halaman sebagai gugatan Weston Capital International ke Mahkamah Agung Mauitius pekan lalu.

“Asia Sentinel ingin menarik kembali artikel yang terbit pada 10 September 2018 yang ditayangkan di situs mereka tentang pemerintahan Yudhoyono dan kasus Bank Century di Indonesia,” demikian isi permintaan maaf yang dikutip www.merdeka.com, dari situs asiasentinel.com, Rabu (19/9).

Lebih lanjut dijelaskan , Asia Sentinel mengakui jika artikel yang ditulis sendiri oleh pemimpin redaksi John Berthelsen, secara tidak adil telah menyampaikan berbagai tuduhan terkait gugatan kasus century yang sedang berjalan.”Kami mengakui bahwa kami tidak meminta konfirmasi terhadap nama-nama yang disebut dalam artikel itu. Artikel itu juga sangat sepihak dan telah melanggar praktik jurnalisme yang adil,” ungkap dia.

Sebagai tindak lanjut permintaan maaf, Asia Sentinel juga menyatakan telah mencabut artikel itu dari situs mereka. “Kami meminta maaf terhadap Presiden Yudhoyono, Partai Demokrat, dan pihak-pihak yang tersinggung atas artikel itu, termasuk kepada rakyat Indonesia. Kami sangat menyesalkan atas kerugian yang telah diakibatkan oleh tudingan itu.”Akhirnya Asia Sentinel ingin menyatakan rasa hormatnya yang tinggi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang secara luas dihormati sebagai negarawan di Asia,” ungkapnya.